Delapan Puluh Lima. Bahagia,Tumbuh,Dan Berjalanlah!

Banyak sekali orang yang merasa dirinya menderita dan terus meraba-raba dalam mencari kebahagiaan, menghindari serpihan-serpihan tajam yang berserakan di jalannya. Mereka ingin sekali dalam hidupnya bahagia sayangnya gelapnya jalan membuat mereka menginjak serpihan tajam, membentur,salah mengambil jalan dan terjatuh berkali-kali. Ada yang menangis, ada yang mengemis dan ada yang bengis.

Pencarian mereka menembus batas waktu juga jarak yang tak terhitung panjangnya. menemukan sebuah kebahagian cinta setelah menderita berpuluh-puluh tahun lamanya. menemukan sebuah keluarga setelah ia mengarungi lautan manusia dalam kesendiriannya, menemukan sebuah kedamaian setelah kegelisahan serta keresahan selalu menghantui sepanjang waktu hidupnya. Mereka semua adalah orang yang terkoyak-koyak oleh semesta. Termasuk kita.

Hidup ialah sebuah lembaran-lembaran cerita yang terus bergerak maju tanpa kembali lagi, setiap lembarannya kita dipaksakan untuk membacanya hingga kita menutup lembaran cerita tersebut. semua akan mengalami bahagia dan duka, cinta dan benci, dipercaya dan dikhianati serta diingat dan dilupakan. jika cerita mu tidak merasakan salah satu diatas maka cerita kamu masih belum tuntas untuk diselesaikan, bersiaplah untuk segala sesuatu yang akan tertulis pada lembaran ceritamu yang akan kamu baca nantinya.

Bersiaplah untuk memaknai setiap lembaran cerita kehidupan, kadang kita menganggap cerita tersebut hanyalah cerita abstrak yang tak bermakna. Padahal ada jutaan makna yang tercantum dalam lembaran tersebut yang kita tidak ketahui dan malas sekali untuk mengetahuinya. Meskipun hal-hal kecil dan seringkali kita anggap tidak berguna malah ia yang bisa mengantarkan kamu pada kebahagiaan dari lembaran cerita kehidupan.


Bahagia,Tumbuh,Dan Berjalanlah!, meskipun kita tahu, kita sedang berada di lorong yang gelap. Maka, berjalanlah! jangan hentikan langkah-langkah kecil mu untuk mencari secercah cahaya di ujung yang menunggu mu disana. Cahaya tersebut menghangatkan dirimu yang dingin ditengah gelapnya lorong mulai merasuk tulang-tulangmu. Maknailah perjalananmu saat ini, karena kau akan segera dihangatkan oleh cahaya disana.

Orang yang berbahagia bukanlah orang yang tak pernah merasakan derita, justru merekalah yang paling sering merasakan derita. Mereka adalah orang-orang yang tak pernah kenal kata menyerah dalam berjalan untuk menemukan kebahagiaan mereka. Pukulan hidup yang terus-menerus yang mereka terima adalah pukulan yang merangsang mereka untuk tumbuh dan mendewasa. Mereka adalah orang yang lebih memilih untuk bangkit dan terus berjalan!





Ke-22, Terimakasih.





Teruntuk : Ayya muchu-muchu (ulayya mefafitria).

Seorang perempuan yang dulu tak pernah ku bersikap ramah padanya Pada hari ini ia menjadikan dirinya sebagai tempat cerita yang baik. Dia punya selusin kantung mata yang melekat pada dirinya juga beberapa kantung-kantung udara di pipinya :D

Kepadamu hari ini semua kata-kata yang sulit aku keluarkan sebelumnya bisa ku keluarkan begitu saja, kepadamu juga hari ini aku menceritakan bagaimana susah payah diriku merangkai hari ini dengan terseok-seok.

Terimakasih sudah mendengarkan seluruh keluh-kesahku hari ini. Mencermati juga medengarkan setiap kata-kata dalam cerita yang ku tuturkan pada lisanku hari ini, Ya, meskipun ujung-ujungnya kau mengeluhkesahkan balik apa yang kamu alami hari ini tapi tak apa setidaknya aku mempunyai seorang yang mendengarkan ku dengan baik. Membantuku mengusap kesedihan yang tidak bisa kuungkapkan dalam tulisan bahkan jari-jari ini kaku akan mengetik tentang cerita akan kehilangan seseorang yang hari ini aku alami.

Sejujurnya, aku bukanlah orang yang ingin bercerita tentang kehidupanku dengan orang lain tapi pada hari ini kau mau menjadikan dirimu sebagai tempat cerita yang baik untuk seorang yang telah kehilangan hatinya.

Semoga engkau tetap sudi dalam mendegarkan keluh kesahku meski hari ini telah usai dan meski nanti pada akhirnya aku tidak tahu kemana harus menceritakan keluh-kesah.Tetap berlapanglah  menerima ku untuk membantu mendinginkan kepalaku.

Tak ada lagi kata selain kata terimakasih yang bisa dilontarkan. Semoga hal-hal yang membuat kita lebih baik tidak datang terlambat ya dan terimakasih untuk tetap menjadi orang baik di saat semua orang menyebalkan.

Jangan lupa berbahagia hari ini ya!

TIGA PULUH TIGA!!!!!!




Aku berapa kali membenturkan kepala ini ke tembok. kau melihat aku seperti ini ?. Peduli apa aku?. SAKIT? sepertinya tidak atau aku sudah kehilangan rasa kesakitan itu sendiri lagipula suara benturan kepala ke tembok ini menimbulkan suara perkusi yang di tabuh.

rasa
tidak
demikian
tak ada
kehampaan
selaras
peristiwa
elok
yang
padam
rungu
jelata
melata
cemburu
pengkhianatan
terhempas
kupu-kupu
terjun
angin
kabur
pergi
menyesakan
tamak
sudah
terbiasa
tak
pernah
ada
batas
yang
mebatasi
hati
pun
membengkak
telinga
pun
tak mendengar
tangan
memanjang
lidah
menjulur
persetan!
kesetanan
ditinggalkan
meninggalkan
diringi
duka
tanpa
ada suara
percikan
api
muncul
diantara
kertas
basah
seharusnya
tidak
terbakar
membakar
seluruh
isi
ruang
hampa
menyesakan
tersesakan
disesakan
oleh
waktu
yang
tak
pernah
habis
melahap
kejadian
mengubah
menjadi
kenangan
kata-kata
tak
terucap
menjadi
penyesalan
melodi
indah
akan
nada
yang
terhempas
begitu
saja
sajak
terlahir
dari
ketiadaan
makna
menjadikan
makna
diantara
ketiadaan
hanya
saja
akulah
yang
tiada
berada
diantara
sajak
kebencian
penyesalan
ketidakaturan
keselarasan
aku
butuh
sedikit
harmoni
damai
berdamai
diatas
awan
dengan
sesiapa saja
tapi
aku
tidak
bisa
dengan
sesiapa
akhirnya
jatuh
membentur
bumi

Ke Dua Puluh Satu---,?





Saya sudah tak menghitung berapa buku yang saya baca semalaman tadi, buku-buku itu jelas mengelilingi saya. Rona hitam menggaris bersama tebalnya kantung mata, tak terasa tiga kali saya mengalahkan matahari yang saat pagi hingga sore menyinari permukaan bumi. Meskipun begitu, dalam tiga kali itu saya tak melihat mahari menyelesaikan tugasnya dengan sepenuhnya. kadang ia  bergantian dengan awan gelap yang membawa tetes-tetes air yang tak terhitung jumlahnya akan tetapi saya bisa merasakan betapa dinginnya tetesan tersebut.

Mengingatkan saya pada saat saya duduk di teras sambil menikmati seduhan kopi hangat dengan pemandangan awan kelabu bersama tetes-tetesannya. Tetesan-tetesannya jatuh bebas menghantam tanah terpecah menjadi bagian lebih kecil lalu membasahi tanah serta masuk kedalam retakan-retakannya menjadikan tanah itu layak di tumbuhi oleh tanaman-tanaman yang menjulang tinggi keatas.

Matahari pagi ini pun di gantikan dengan awan kelabu, hawa dinginpun menyapa tulang belulang. jutaan tetesan air jatuh dengan diiringi suara yang menggelegar dari awan kelabu menunjukan keperkasaan sang awan. Tetesan-tetesan hujan jatuh bebas membuat dentuman-detuman khasnya saat menghantam tanah.

Detumannya menyembunyikan suara tangis yang akibat kesedihan melanda juga menyejukan hati para pemilik hati yang gundah gulana. Saya pun beranjak dari tempat tidur yang dipenuhi oleh tumpukan buku yang mengelilingi saya lalu menuruni tangga untuk menyeduh segelas kopi hangat akan tetapi saat saya membuka lemari sepertinya saya kehabisan stok kopi yang pada akhirnya saya gantikan dengan segelas coklat hangat. Setelah akhirnya segelas coklat hangat berada di gengaman, saya pun kembali keatas menuju balkon rumah untuk menyaksikan dunia dengan latar belakang tetesan air jatuh.

Suara dentuman air membuat melodi yang indah dengan lalu lintas nada dipenuhi kesedihan juga kesunyian. Seperti ditiap dentumannya seperti mewakili satu kesedihan lalu dentuman itu membentuk sebuah nada begitu pula dengan jutaan dentuman lainnya. Inginnya jiwannya menolak kehadiran lalu lintas nada tersebut, namun ditariknya kembali agar nada itu membentuk lalu lintas melodi walaupun pesan yang disampaikan hanyalah kesedihan juga kesunyian.

Setiap butir air yang jatuh terasa ada nada dari melodi lagu yang menyanyikan kesedihan. Kesedihan akan kehilangan yang belum sempat diupayakan bagaikan sebuah pohon yang di cabut paksa dari akarnya, ada  butir air yang menadakan tentang keputusasaan ketika jiwanya tidak disapa lagi dengan bahagia dan harapan yang tersisa hanyalah ingin menyerah dan tiap sujudnya hanyalah menjadi ratapan keluh diatas sajadah tua, ada juga yang menadakan rasa kesendirian seperti ingin berbagi tawa tapi tidak tahu berbagi tawa kepada siapa dan jutaaan nada lainnya yang tidak bisa saya sebutkan satu-satu. meskipun terdiri dari nada-nada kesedihan tapi mereka membentuk suatu lali lintas melodi yang sangat indah.

Ah,,berbicara tentang kesedihan saya teringat tentang perahu kecil di tengah samudra. Seluruh air yang ada di samudra pun tak akan mampu menenggelamkan perahu itu, jika airnya tidak masuk dalam perahu kecil tersebut begitupula dengan cara kerja kesedihan, kegundahan. Ia tidak akan masuk dan mengatur hati kita  jika bukan kitalah yang mengijikan ia masuk kedalam hati kita.

Kesedihan itu memang bisa datang dari mana saja, begitu juga ombak di lautan yang gemas untuk menenggelamkan perahu kecil akan tetapi itu bukanlah suatu alasan yang baik untuk tetap membiarkan air yang terbawa oleh ombak tetap berada di dalam perahu kecil. Jadi, tak apa bersedih untuk sementara memang dalam hidup ini diperlukan kain luka untuk memebersikan kacamata bahagia yang semakin buram atau meminum seteguk kepahitan agar lebih bisa menghargai manisnya nektar akan tetapi jangan pernah melupa bahwasannya perahu kecil cepat atau lambat akan berlabuh di tempat semestinya yaitu bersama-Nya


Ingatlah .


".....................Hanya dengan mengingat Allah, hati akan tentram" (QS. Ar-Ra'd: 28)




---------------------------------------------------------


Delapan Belas


Yang patah, tumbuh. Yang hilang, berganti. Yang hancur lebur akan terobati. Yang sia-sia akan jadi makna yang terus berulang suatu saat nanti. Yang pernah jatuh, kan berdiri lagi- Banda Neira
Kita tak pernah tau tentang mengapa perjalanan hidup kita yang kian menyamudra, Penyelesan-penyesalan kian menghantam hari demi hari tentang apa yang sudah kita perbuat di masa lampau yang tidak sesuai dengan hakikat kebaikan atau yang kita lakukan itu hanyalah ketidakselarasan dengan pengharapaan kita. Hal itu di mulai saat kita membuka lembaran masa lampau lalu membandingkan dengan masa sekarang

Berandai-andai untuk dapat kembali dan memperbaikinya. Selalu berharap jika bisa kembali dan memperbaikinya bisa menjadi lebih baik dari masa sekarang. Namun, siapa yang tahu?. Apakah bisa lebih baik dari sekarang jika memperbaiki apa yang sudah dilakukan di masa lampau?. Atau malah akan memperburuk keadaan itu sendiri?.Tak ada yang tahu itu.

Kita yang masa sekarang ini adalah sepenuhnya yang kita ciptakan maupun diciptakan di masa lalu. Tak ada yang bisa diperbuat di masa lalu, tapi kita masih bisa berbuat untuk masa yang akan datang. Sekarang ini yang hanya bisa kita lakukan adalah memperbaiki diri dengan belajar dari masa lampau dan memantaskan diri.

Sepertinya memang harus saya akui, bahwa perjalanan hidup adalah sekumpulan fase yang harus dilalui dengan kesabaran juga keikhlasan, fase-fase hidup ini tak selalulah indah seperti bunga-bunga dengan warna-warni yang indah di hamparan tanah lapang kadang fase-fase tersebut menuntut kita harus rendah, serendah-rendahnya makhluk, meskipun begitu setiap rasa fase yang pernah dicicipi semestinya menjadi wadah bagi kita untuk belajar dan merenung

Kegagalan,sakit hati serta kekecewaan yang memenuhi masa lampau kita bukanlah serta-merta dihilangkan begitu saja dalam kehidupan kita biarkan mereka jadi kawan baik kita yang selalu mengingatkan kita agar diri ini senangtiasa merendah dirinya juga hatinya serta menjadi penegur untuk selalu berbenah diri

Keberhasilan dan kebahagiaan yang ada pada dalam dirimu juga kawan terbaik  yang dengan tulus mengajarkan kita arti penting untuk selalu bersyukur kepada-Nya dan senangtiasa bersikap bersahaja

Sesal memang selalu ada pada dalam diri kita akan tetapi jangan pernah secara berlarut hingga akhirnya terlarut dalam penyesalan. Hidup ini terlalu singkat untuk menyesali setiap serpihan fase-fase kehidupan kita. Andai setiap insan di dunia mengetahui cara-Nya dalam mengatur kehidupan tak ada kemungkinan mereka akan meleleh terhadap cinta-Nya

Penyesalan adalah tanda kita harus belajar memaafkan diri kita sendiri sehingga kita bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Terlebih lagi dalam hidup ini tak semuanya adalah kenikmatan, malah mungkin saja lebih banyak yang menyakitkan. mungkin Allah s.w.t sengaja membuat dunia ini penuh dengan kesakitan dan ke-ngerian agar kita selalu senangtiasa menjadi pribadi yang rendah hati dan berbenah diri untuk menjadi makhluk-Nya yang lebih baik lagi




Kabar Persimpangan


Saya selalu mengagumi pertemuan karenanya saya mempelajari banyak hal yang dapat terangkai indahnya dan pula saya percaya pertemuan itu telah diatur sedemikian rupa agar saya dapat menikmati rangkaian indahnya pertemuan tersebut. Lalu, bagaimana dengan pertemuan selanjutnya?

Dalam hidup ini kita selalu dipenuhi dengan pertemuan-pertemuan, entah itu dengan orang, peristiwa maupun dengan suatu tempat. Memang setiap pertemuan yang telah kita lewati tidak selalu indah dan beberapa pertemuan sering kali kita abaikan karena memang terlalu asing atau bahkan mungkin terlalu sakit untuk diingatnya kembali, namun beberapa lainnya membekas dalam semesta pikiran

Pertemuan-pertemuan memang tak selalu kita rencanakan dan tidak ada sekalipun sesuatu yang mudah untuk dipertemukan begitu saja. Sejujurnya, saya iri dengan orang-orang yang pertemuan mereka dirangkai dengan indahnya, terlebih lagi saya iri dengan kebahagiannya, wajah-wajah yang berseri-seri juga senyuman yang mengembang tampak jelas terpampang di wajah mereka hingga akhirnya sang waktu mempertemukan mereka.

Sedangkan, bertemu denganmu hanya membuatku seolah-olah terasingkan, lebih tepatnya seperti tanah di musim kemarau rasanya ada retak dimana-dimana. Padahal bertemu atau tidak, sama saja, kau tidak akan pernah menyukai saya. Lebih baik saya mencegah agar harapan-harapan tidak tumpah meruah, karena saya tahu kalau harapan-harapan itu tumpah meruah saya takut tidak bisa menahan keegoisan saya akan semua kenyataan yang semuanya terlimpah

Pada akhirnya, saya pun tahu kita bisa jatuh cinta pada siapa saja akan tetapi kita tidak dapat memastikan ataupun memaksa kepada siapa saja hati mereka jatuh, jadi bukankah jatuh cinta itu merupakan perkejaan yang sia-sia?

Mungkin sebagian waktu, saya lebih suka menunggu, Persetan!, inilah pekerjaan sia-sia yang kedua saya lakukan. Terlepas dari itu ada keresahan yang hadir saat meneguk teh hangat di saat matahari mulai menenggelamkan dirinya. Laki-laki seperti saya memang tak lebih dari seorang laki-laki yang tak mengenal waktu, pun saat matahari menggelamkan dirinya saya selalu saja menunggumu, meskipun saya tahu kedatanganmu hanyalah semu belaka, sebab jatuh cinta, menunggu adalah hal yang seharusnya membahagiakan bukankah begitu, nona?

Namun, ternyata kamu adalah peran yang tak sempat diaminkan oleh semesta untuk menjadi bagian hidup saya, memilih untuk pergi dan sekalipun tak pernah mengizinkanku berlabuh, ada jeda dan hening diantara aku, awan hitam pekat juga rintik-rintik air yang menyerbu bumi.

Hujan itu indah, bukan?



Maka kemanakah kamu akan pergi?




 "Maka kemanakah kamu akan pergi?" ( QS : At-takwir : 26 )

Sebuah pertanyaan yang singkat namun banyak maknanya, sebuah pertanyaan yang terkadang membuat diri ini sulit menemukan jawabannya, sebuah dan salah satu pertanyaan yang bisa menentukan kemana lagi diri ini harus melangkah dan merupakan pertanyaan terus-menerus ditanyakan kepada kita.

Kehidupan  adalah sebuah perjalanan yang singkat dengan berbagai macam cabang-cabang jalan untuk kita yang memilih kemana kita pergi. Perjalanan yang singkat ini menuntun kita ke tempat tujuan utama kita yaitu ; surga, dimana semua orang yang di dunia ini mendambakan sekali dirinya untuk menetap disana bersama keluarga juga sanak-saudaranya namun tidak jarang "para pengembara" perjalanan ini terlenakan sehingga "para pengembara" perjalanan ini "lupa" akan tujuan utamanya.

Ketika pikiran mulai kelelahan, ketika hati mulai "dingin", dan ketika itulah kita menyadari bahwa diri ini berada di persimpangan jalan kehidupan membuat kita kebingungan jalan mana yang harus kita pilih selanjutnya, serta perlahan-lahan harapan mulai pudar.

Disaat itulah pertanyaan ini sering bergeming didalam pikiran kita

"Maka kemanakah kamu akan pergi?.

Selayaknya ketika itu kamu meragu dalam melangkahkan kaki kamu ke jalan yang mana harus kamu pijaki. Selayaknya kamu juga pun diam merenungi apa yang sudah kamu lakukan dimana selama ini kamu tidak sadar terjebaknya diri kamu pada fatamorgana yang berwujud khayalan.

Gelisah, resah, bimbang, penyesalan dan semua rasa bersalah memenuhi pikiran juga hati kamu kala itu. Menyadari bahwa kamu sudah "melenceng" dari jalan yang ditunjukan dengan jelas oleh-Nya. Akibatnya, jalan menuju tujuan utama kamu semakin memudar bersama harapan-harapan kamu.

Perlahan-lahan tubuh ini berlutut berdoa dan berpasrah diri kepada-Nya. berbicara dari hati yang terdalam serta mengakui kesalahan atas dirinya karena kurang per"bekal"an yang menyebabkan kamu terlena pada dunia ini.

 "Maka kemanakah kamu akan pergi?"( QS : At-takwir : 26 )

Berdirilah, Yakinkan diri ini untuk selalu berada di jalan kebenaran yang sudah jelas ditunjukan oleh-Nya,  Entah bagaimana kamu memulai semua itu, jika memang ada niatan ingin kembali ke jalan-Nya maka selalu akan ada jalan untuk kembali kepada-Nya. Toh, diri-Nya maha penerima taubat hambanya. Jadikan yang sudah-sudah sebagai pelajaran agar kelak kamu tetap setia pada jalan kebenaran.

Mulailah melangkahkan kaki pada jalan kebenaran-Nya, karena sesulit apapun nantinya semua itu dimulai dengan satu pijakan. Seburuk apapun dirimu yang sekarang, Ingatlah,  Allah S.W.T maha pengampun

Ingatlah bahwasannya kamu tak sendiri sebagai "pengembara" dijalan-Nya maka ajaklah keluarga serta kerabat-kerabat kamu untuk selalu mengarah kebaikan dan tegurlah mereka saat mereka mulai "berbelok" dari jalan-Nya serta jadilah pengembara yang senangtiasa menyebarkan kebaikan di muka bumi ini.